fbpx
Home / Politik / Tuhan pun Diajak Berpolitik

Tuhan pun Diajak Berpolitik

Oleh: Komaruddin Hidayat

Di samping terjadi perubahan dan kemajuan dalam bidang sains dan tekonologi, fenomena sosial yang cukup menonjol adalah terjadinya penguatan identitas dan solidaritas kelompok berdasarkan kesamaan keyakinan agama dan sentimen etnis. Sementara itu, agama dan etnis selalu bersifat plural, majemuk. Di muka bumi ini terdapat beragam agama dan etnis. Oleh karenanya, peran agama tidak saja menyatukan, tetapi juga menciptakan segregasi sosial. Bahkan sampai pada tingkat konflik dan perang atas nama agama. Agama menciptakan pengelompokan sosial sehingga muncul kategori “kami” dan “mereka” yang ditandai dengan identitas keagamaan.

Di Indonesia identitas keagamaan ini cukup fenomenal ketika menghadapi pilkada dan pemilu. Ketika koalisi parpol tengah melakukan konsolidasi untuk menghadapi pilpres 2019 mendatang, issu identitas dan afiliasi kegamaan tokoh menjadi sangat penting karena menjadi sorotan dan pertimbangan rakyat dalam memberikan dukungan. Baik kubu Jokowi mapun Prabowo keduanya sangat menyadari betapa pentingnya identitas dan support keagamaan ini sehingga keduanya berusaha menunjukkan perhatian dan respek pada ulama.

Sebagai instrumen mencari dukungan massa, sudah pasti peran ulama sangat besar. Tetapi ketika dihadapkan persoalan dan tantangan ekonomi, program akselerasi pengembangan teknologi, problematika birokrasi negara moderen, dan berbagai tantangan global, pemberabtasan korupsi, mendongkrak  pemasukan pajak, stabilitas rupiah, apakah jawaban dan solusi yang ditawarkan oleh jajaran ulama mari kita tunggu.

Hasil penelitian sosial menunjukkan, kemajuan sebuah bangsa dan negara lebih ditentukan oleh kemajuan teknologi dan manajemen politik pemerintahan yang tepat. Agama tetap diperlukan karena agama memberikan basis moral, makna dan tujuan hidup. Tetapi bangsa yang semangat mengedepankan identitas agama tanpa disertai keunggulan teknologi dan pemerintahan yang efektif, visioner dan wibawa, peran sosial agama cenderung mandeg sebagai kekuatan kohesi sosial. Bahkan di beberapa tempat muncul konflik karena dipicu oleh identitas keagamaan yang berbeda.

Belakangan ini mudah sekali diamati, masing-masing parpol ingin menunjukkan dirinya adalah nasionalis dan religius. Berbagai kelompok agama didekati dan dibina agar turut memberikan dukungan demi memenangkan pilpres. Beberapa kelompok dan pribadi mencari pembenaran teologis bahwa dirinya sudah berada di atas jalan Tuhan dan senantiasa membela agama Tuhan. Bahkan ada jamaah umrah yang memanjatkan doa di depan Ka’bah agar agama Tuhan semakin berjaya di bawah kepemimpinannya.

Dengan kata lain, dalam kontestasi politik Tuhan pun diajak berpolitik dan berkoalisi dengan kelompoknya. Mungkin ini sebuah cerminan dari negara yang berketuhanan yang maha esa. Bisa juga ini cerminan sebuah militansi keberagamaan yang diekspresikan dalam partisipasi politik. Bisa juga ini sebuah ijtihad politik yang muncul dari panggilan hati untuk membangun dan menyelamatkan bangsa dan negara.

Semua itu sah-sah saja. Ketika masing-masing kelompok dan pendukung capres-cawapresnya sama-sama identitas agamanya, sama doanya, sama Tuhan yang disembahnya, maka kita tidak tahu bagaimana respons Tuhan atas doa-doa itu.

Bagi masyarakat sekuler yang tidak melibatkan Tuhan dalam berpolitik, tentu saja akan berbeda dalam menjajakan jagonya. Rakyat juga punya pertimbangan tersendiri dalam menentukan pilihannya. Mungkin saja yang lebih diperhatikan adalah program dan kapabelitas calon untuk menyelesaikan berbagai problem dan tantangan bangsa yang tengah dihadapi. Faktor agama tetap penting, misalnya saja di Amerika dan Eropa, tetapi agama tidak menonjol sebagai instrumen politik untuk membangun solidaritas kelompok seperti di Indonesia.

Jadi, dengan melibatkan simbol dan figur-figur ulama dalam kancah perpolitikan, semoga saja mendatangkan keberkahan dan kesejukan. Namun hal ini sekaligus menempatkan agama dan jajaran ulama dalam taruhan. Kalau Indonesia malah mundur,   akan muncul penilaian bahwa ruang gerak agama dan ulama itu bukan pada ranah politik praktis yang penuh lumpur, saling jegal dan tipu daya.

Spread the love

Check Also

Pemilu Yang Menegangkan

Oleh: Komaruddin Hidayat Ingat pemilu di era orde baru? Sebelum dilaksanakan, masyarakat sudah yakin bahwa …

%d bloggers like this: