fbpx
Home / Agama / Menghormati Jenazah

Menghormati Jenazah

Oleh: Komaruddin Hidayat

Dua hari lalu, sambil sarapan pagi persiapan main golf, seorang teman, sebut saja Lutfi,  berbagi cerita yang cukup menyentuh perasaan saya. Yaitu, sebuah adegan sesama saudara kandung bertengkar di depan jenazah ayahnya di rumah duka yang tengah dipersiapkan untuk dibawa ke pemakaman. Masalah yang diributkan di hadapan jenazah dan para tamu yang melayat adalah, apakah sebelum jenazah dikubur akan diantar dengan azan ataukah tidak. Lalu, malam harinya apakah akan ada doa bersama dan membaca Yasin serta tahlil barang tiga atau seminggu ataukah tidak diadakan.

Rupanya ada anaknya yang berpaham bahwa membaca yasinan dan tahlil untuk mendoakan almarhum atau almarhumah itu bid’ah.   Nabi tidak mengajarkannya.  Jika dilakukan, jelas hal itu termasuk bid’ah, membuat ajaran baru dalam agama dan itu dosa. Alih-alih berpahala, melainkan diancam neraka. Termasuk makan-minum di tempat keluarga yang tertimpa musibah adalah haram.  Sementara anaknya yang lain berbeda pandangan, ingin menjaga tradisi yang selama ini dia pahami dan ikuti. Bahwa silaturahmi menghibur keluarga yang ditinggal salah satu anggota tercinta itu punya nilai ibadah, disertai berkumpul membaca kalimah toyyibah, bacaan baik dan mulia, sebagai pengantar doa. Keluarga yang tengah berduka pasti akan terhibur dengan gema kalam ilahi dan bacaan doa-doa bersama. Adapun jumlah hari untuk baca yasin dan tahlilan itu masuk kategori budaya dan pertimbangan psikologis semata. Bagi keluarga yang berkecukupan, sama sekali tidak memberatkan untuk menyuguhi tamu dengan makanan dan minuman. Baginya sulit menerima pandangan yang mengharamkan semua makanan sewaktu takziyah adalah haram.  Adapun bacaan dan doa itu akankan dikabulkan oleh Allah ataukah, agar perjalanan ruh almarhum dimudahkan, itu sepenuhnya wewenang Allah. Yang pasti berdoa dan mendoakan almarhum orangtua itu tindakan mulia dan dianjurkan agama.

Kata Lutfi, para tamu yang menyaksikan anak-anaknya bertengkar di depan jenazah ayahnya tentu saja kecewa dan sedih. Jenazah belum dikubur saja sudah bertengkar, yang biasanya berlanjut pada perebutan warisan. Andaikan ruh ayahnya melihat – persisnya kita tidak tahu – betapa sedihnya melihat anaknya malah berantem, bukannya melepas dengan doa, hormat dan cinta. Beberapa riwayat hadis menyebutkan, meninggal itu layaknya berpulang kembali ke rumah asalnya,  ke hadirat ilahi. Yang paling diharapkan oleh ruh yang hendak pergi melepaskan keluarga itu adalah sikap ikhlas, doa dan cinta serta menyaksikan keluarga yang ditinggal hidup rukun dan damai.

Masih menurut cerita Lutfi temanku tadi, keluarga itu memang tidak mendalami ilmu agama. Mereka belajar dari ceramah-ceramah dan membaca buku serta mengikuti ajaran gurunya. Namun belakangan ini muncul guru-guru mengaji baru yang mudah sekali menghakimi pemahaman dan praktek keberagamaan yang sudah mentradisi dalam masyarakat. Sedikit-sedikit asal yang tidak ditemukan di zaman nabi disebut bid’ah, ancamannya neraka. Mereka ketat dengan bunyi teks, anti penafsiran untuk disesuaikan dengan konteks sosial-psikologis hari ini. Beberapa orang tua heran campur sedih, anaknya tidak lagi mau mengucapkan selamat dan doa di hari ulang tahunnya, katanya itu bid’ah. Nabi tidak mengajarkan. Lagi-lagi, ini menurut guru mengajinya.

Fenomena yang juga berkembang adalah slogan “hijrah”. Perempuan yang belum berhijab, diwajibkan “berhijrah” dengan mengenakan hijab. Yang sudah berhijab hendaknya menyempurnakan “hijrah”nya dengan menutup seluruh muka, kecuali matanya. Lalu yang laki-laki hendaknya mengenakan celana cingkrang dan berjenggot. Tentu saja itu sebatas femomena lahir yang terlihat. Adapun hati, pikiran dan perilaku kesehariannya kita tidak tahu. Itu hak dan urusan pribadi masing-masing.

Namun, kembali pada cerita awal tentang penghormatan terhadap jenazah, berupa doa, baca yasin dan bersilaturahmi,  secara psikologis sangat positif dan mulia. Apakah ada prinsip ajaran agama yang dirusak oleh praktek yasinan dan tahlilan?  Oleh ucapan selamat ulang tahun? Oleh kebiasaan berjabat tangan setelah sembahyang berjamaah? Semua itu adalah sebuah ekspressi kebajikan sosial dan kemanusiaan yang justeru dianjurkan oleh agama. Orang juga tahu yang namanya ibadah ritual seperti sholat dan puasa yang sudah jelas tuntunannya. Tidak boleh ditambah dan dikurangi.

Kalau semua perilaku sosial keagamaan harus persis kembali ke masa Nabi, maka betapa banyaknya kita melakukan bid’ah. Keberagamaan kita menjadi kering. Kita dilarang melakukan dzikir nasional akhir tahun masehi. Pertama Nabi tidak mengenal tahun masehi, kedua, nabi tidak mengajarkan dzikir nasional.

Spread the love

Check Also

Keyakinan Sumber Ketenangan

Oleh: Komaruddin Hidayat Andaikan kematian seseorang berarti akhir seluruh cerita hidupnya, yang berarti setelah mati …

%d bloggers like this: