Oleh: Komaruddin Hidayat
Islam yang semula muncul di wilayah Arabia pada abad ke-6 M secara dinamis terus berkembang memasuki berbagai benua. Indonesia yang letaknya jauh dari Arabia dan terhalang benua India yang mayoritas beragama Hindu, sungguh merupakan keajaiban sejarah. Bahkan secara demografis, Indonesia sering disebut sebagai kantong umat Islam terbesar di dunia. Jumlah umat Islam di Timur Tengah masih dibawah jumlah umat Islam Indonesia.
Dalam lintasan sejarah, adalah Islam Indonesia yang datang dan berkembang tanpa melalui peperangan. Melainkan lewat perdagangan dan penyebaran secara damai. Perang muncul belakangan ketika penjajah Barat datang. Keberagaman seseorang dan masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor. Indonesia sebagai negara kepulauan yang tanahnya amat subur tentu watak masyarakatnya berbeda dari penduduk Arabia yang dikelilingi padang pasir yang dalam sejarahnya senang berperang antar suku memperebutkan sumber air dan padang rumput.
Masyarakat nusantara hidup terpencar ke dalam ribuan pulau yang subur, sehingga ikatan suku dan daerah begitu kuat, namun tidak perlu berebut sumber air atau padang rumput. Hubungan perdagangan antar pulau sudah lama terjalin. Kehadiran pedagang Arab dan China ke nusantara turut memajukan perdagangan dengan pusat di kota-kota pantai. Dulu kota pantai merupakan pusat perdagangan dan sekaligus juga pusat penyebaran Islam dan bahasa Melayu. Ikatan keislaman dan peran bahasa Melayu ini pada urutannya menjadi pengikat kohesi keindonesiaan.
Dengan berkembangnya zaman, peran kota pantai merosot. Pusat perdagangan dan keislaman serta industri tumbuh pesat di kota pedalaman. Terlebih dengan kemajuan transportasi pesawat terbang, maka perkembangan kota pantai jauh ketinggalan. Pengaruh Islam mudah dijumpai sejak dari dari Aceh sampai Papua. Namun sebaliknya, ekspresi keislaman di Indonsia juga sangat dipengaruhi dan diperkaya oleh sekian ragam adat, tradisi dan bahasa yang berkembang di Indonesia. Fakta ini membuat muslim di Indonesia menjadi unik dan memiliki karakter tersendiri. Antara lain keberagamaan yang toleran dan menghargai tradisi lokal. Sebagian orang mengatakan itu bid’ah dan pendangkalan agama, namun sebagian lagi mengatakan itulah kekayaan budaya muslim Indonesia yang mampu mengakomodasi tradisi lokal tanpa merusak prinsip-prinsip dasar ajaran Islam.
Jadi, pada dasarnya sifat orang Indonesia itu toleran, ramah, senang berkawan , sebagaimana sifat pedagang. Dan pada awalnya Islam yang berkembang juga lebih menekankan dimensi tassawuf yang menekankan keluhuran budi pekerti sehingga lebih mudah bergaul dan berkomunikasi dengan pemeluk Hindu-Budha kala itu. Baru belakangan saja muncul gerakan radikalisme-terorisme dan dakwah agama yang keras yang dengan mudah mengkafirkan dan menjelakkan orang lain, bahkan terhadap umat Islam sendiri. Andaikan dulu para pembawa Islam sikapnya seperti itu, pasti nusantara ini tidak menjadi kantong umat Islam seperti sekarang ini.
KAHA Virtual University The Official Website of Prof. Dr. Komaruddin Hidayat