fbpx
Home / Agama / Keyakinan Sumber Ketenangan

Keyakinan Sumber Ketenangan

Oleh: Komaruddin Hidayat

Andaikan kematian seseorang berarti akhir seluruh cerita hidupnya, yang berarti setelah mati tak ada lagi kelanjutan hidup dan tak ada yang namanya pahala (reward) dan siksa (punishment), maka rasanya cerita kehidupan menjadi sangat pendek dan hampa (absurd). Sepak terjang dan hiruk-pikuk kehidupan lalu berjalan tanpa tujuan yang lebih tinggi, kecuali sekadar menjalani hidup layaknya tumbuh-tumbuhan atau hewan. Semuanyanya berakhir dengan kekalahan dan kepunahan. Andaikan tak ada keabadian jiwa setelah peristiwa kematian, sehingga tak ada pengadilan Tuhan Yang Maha Adil setelah peristiwa kematian, landasan moral apakah yang dijadikan pijakan absolut dalam menjalani hidup yang kadang kala sangat menyakitkan dan sulit dipahami ujung pangkalnya ini?

Demikianlah, sejarah manusia dan sejarah alam raya selalu menjadi objek renungan dan perdebatan yang tidak pernah selesai karena terlalu kecil dan sangat terbatas kemampuan manusia untuk bisa memahami realitas hidup yang ujung dan pangkalnya di luar kemampuan nalar manusia. Kita tidak tahu secara persis bagaimana kehidupan ini bermula dan bagaimana nantinya akan berakhir. Atau, adakah tidak bermula dan tidak berakhir? Di sini jelas sekali bahwa pemahaman dan pengetahuan manusia banyak mengandung perkiraan, tafsiran, dugaan yang kemudian dipercayai sebagai sebuah keyakinan karena hidup tanpa keyakinan bagaikan orang berjalan tanpa tujuan dan tanpa tempat berteduh. Lelah dan bingung. Terlepas adakah sebuah keyakinan memang benar ataukah salah, yang pasti hidup tanpa keyakinan, hidup tidak akan tenang. Adakah dalam hidup ini terdapat keyakinan yang kebenarannya absolut sehingga mampu membimbing pengembaraan hidup dan melewati batas-batas duniawi yang teramat pendek, teramat dekat, dan sangat terbatas ini?

Sulit dinafikan, di samping cerita bahagia, sejarah kehidupan juga menyajikan serial derita, ketidakadilan, kezaliman, dan pengorbanan dari mereka yang sesungguhnya tidak bersalah. Jika kenyataan ini dipandang secara negatif, maka di mana peran Tuhan yang membiarkan semua ini berlangsung? Beberapa pertanyaan klasik yang selalu diulang antara lain ialah, jika Tuhan Maha Kasih dan Maha Perkasa, mengapa kezaliman terhadap mereka yang lemah dan tidak berdosa dibiarkan saja? Ketika rakyat sipil yang tak berdosa jadi korban perang, di mana campur tangan Tuhan? Jika Tuhan Maha Tahu, mengapa ada istilah Dia hendak menguji pada manusia yang lemah dan bodoh ini? Yakin bahwa Tuhan tidak pernah tidur, adakah proses sejarah ini selalu diintervensi ataukah dibiarkan berjalan bagaikan sebuah jam yang berjalan otomatis? Ataukah sesungguhnya sejarah berjalan tanpa pakem (batasan-batasan standar) yang baku?

Demikianlah, pelbagai pertanyaan teologis dan filosofis senantiasa muncul ketika kita dihadapkan pada realitas sejarah yang begitu kompleks dan sering kali sulit dipahami oleh nalar. Asumsi dan jawaban yang muncul dari pelbagai pertanyaan di atas sangat beragam, dipengaruhi oleh cara pandang masing-masing. Para ilmuwan, teolog, filosof, dan sejarawan terbagi-bagi pada pelbagai mazhab sehingga sudut pandangnya berbeda yang pada urutannya melahirkan kesimpulan yang juga berbeda. Dengan kata lain, kita memang sulit lari dari penafsiran terhadap Tuhan dan penafsiran atas kehendakNya, juga terhadap realitas sejarah itu sendiri. Karena penafsiran, mungkin sekali—atau bahkan pasti—mengandung kesalahan, tetapi jika dilakukan secara tulus, cermat, dan didorong oleh cinta kebenaran, pasti ada kebenarannya. Makanya kita diajarkan agar selalu berdoa: Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus. Dan bagi seorang muslim minimal tujuh belas kali sehari semalam kita menyampaikan doa tersebut pada Allah dalam ibadah sholat.

Spread the love

Check Also

Menjaga Orbit Spiritual

Oleh: Komaruddin Hidayat Berbeda dari perintah puasa, zakat dan haji, perintah sholat wajib dilaksanakan setiap …

%d bloggers like this: