Oleh: Komaruddin Hidayat
Berbeda dari perintah puasa, zakat dan haji, perintah sholat wajib dilaksanakan setiap hari minimal sebanyak lima waktu. Belum lagi berbagai anjuran sholat sunnat seperti halnya tarawih di bulan Ramadan. Beberapa teman non-muslim sering berkomentar, menjadi orang muslim itu berat, terutama melaksanakan perintah sholat setiap harinya. Mengapa tidak cukup berdoa saja? Begitulah, tanpa dilandasi iman, kesadaran dan disiplin tinggi sungguh berat menjaga kontinuitas sholat.
Tetapi jika kita amati, kalau pun seseorang enggan menjaga konsistensi sholat lima waktu, hidup ini pun selalu terikat dengan ritual keduniaan yang rutin. Sejak dari mandi, berpakaian, sarapan pagi, membaca koran, nonton tv, telepon teman dan sekian ritual keduniaan lain yang tak yang juga memakan waktu sebagaimana sholat. Belum lagi ritual mingguan, bulanan dan tahunan, selalu saja manusia kreatif menciptakannya dan menjaganya, misalnya pesta ulang tahun kelahiran. Jadi, kalau alasan enggan sholat karena waktu, sesungguhnya kurang logis karena untuk melaksanakan sholat bisa kurang dari sepepuluh menit. Soal tempat pun cukup fleksibel.
Salah satu dampak positif dari sholat adalah seseorang selalu diingatkan dan terikat pada pusat orbit ilahi. Bayangkan saja, ibarat sebuah pesawat terbang yang menjelajahi ruang angkasa maka pilotnya mesti taat pada garis orbitnya agar tidak nyasar dan kehilangan arah. Begitu pun dalam hidup ini, dari bangun pagi sampai malam hendak tidur, kita bertemu dengan berbagai macam orang dan situasi serta godaan yang potensial menjauhkan diri kita dari orbit kebenaran. Maka idealnya dengan sholat seseorang kembali ke orbit yang benar dan berkonsultasi pada Allah menyampaikan laporan rasa syukur dan mohon kekuatan serta bimbingan.
Lewat sholat diharapkan terjaga keseimbangan hidup untuk meraih kebaikan jasmani maupun ruhani. Dengan menjaga sholat yang benar seseorang diharapkan peka dan setia pada rambu-rambu kehidupan yang telah diajarkan para Rasul Tuhan, ibarat pengembara yang selalu memperhatikan lampu lalu lintas serta arah jalan. Melalui sholat seorang hamba melakukan berkomunikasi langsung dengan Tuhan tanpa perantara untuk menyampaikan semua sanjungan, syukur maupun keluh kesahnya. Shalat juga sebuah pengakuan penghambaan manusia di hadapan Tuhannya, pengakuan kelemahan dan tidak keberdayaannya manusia dihadapanNya. Inna sholati wannusyuki wamahyaya wamamati lillah. Bahwa sholatku dan totalitas hidupku aku persembahkan hanya pada Allah. Shalat juga mengajarkan kesabaran, kekhusyukan dan focus atau istiqomah. Kalau saja pesan sholat bisa kita terapkan dalam pekerjaan dan aktifitas sehari-hari, tentu hasil kinerjanya akan optimal dan berkualitas.
Dampak positif lain dari sholat juga mendatangkan kesehatan. Jika kita perhatikan dan rasakan dalam gerakan-gerakan sholat tersebut, dari mulai takbir mengangkat kedua tangan, ruku’, sujud, duduk, dan gerakan lainnya maka jaringan syaraf tubuh akan tetap lentur dan rileks. Dalam banyak penelitian, sujud misalnya, mampu membebaskan otak syaraf dari kegelisahan, rasa resah dan tekanan kejiwaan. Kepasrahan yang dilakukan orang yang sujud membuat otak dan syaraf menjadi tenang dan terasa kosong. Seorang yang sholat telah berbagi keresahan dan kegelisahan hidupnya kepada Tuhannya sehingga akan terasa ringan.
Dengan ucapan dan gerakan shalat kita dapat menyatukan antara hati pikiran dan gerak untuk mencapai khusyuk. Mengapa tahajjud pada waktu malam sangat ditekankan, karena dalam keheningan malam itu kita akan merasakan hubungan yang intim dan penuh privacy dengan Tuhan. Setiap gerakan shalat adalah bahasa ritual, sejak dari mengangkat tangan, membungkukkan badan sampai menundukkan kepala sampai ke tanah. Semuanya itu, kalau saja dihayati dengan mendalam, jauh lebih ekspresif ketimbang ucapan seribu kata. Ketika seorang Muslim bersujud dengan khusyuk menundukkan kepala dan menempelkan dahinya ke tanah, maka rangkaian kata-kata tidak cukup untuk mengungkapkan perasaan hatinya ketika bersimpuh menghadap Tuhan. Dengan demikian maka seseorang yang sholat dengan tertib dan khusyu’ akan mampu membuat dirinya dalam keyakinan yang tinggi untuk menjalani hidup serta kepasrahan yang tulus atas semua ketentuan Tuhan. Hidup akan tetap optimis karena selalu dekat dan berpegang tangan Tuhan.
KAHA Virtual University The Official Website of Prof. Dr. Komaruddin Hidayat