fbpx
Home / Agama / Allah Telah Menunggu

Allah Telah Menunggu

Oleh: Komaruddin Hidayat

Manusia terhubung dan menghubungkan diri dengan Tuhan dengan doa. Dalam doa seorang hamba mengingat, menyeru dan menyampaikan seluruh suka dan duka dalam menjalani hidup. Bagi orang yang beriman, umur dan hidup adalah amanah dan anugerah sehingga sangat logis jika Tuhan menjadi sandaran terakhir tempat mengadu.

Dalam Islam, salah satu forum untuk mengadu adalah sholat wajib dan kalau dirasa kurang puas melalui sholat sunnat. Banyak sekali forum sholat sunnat yang diajarkan Rasulullah.  Dalam berbagai hadits disebutkan, Allah senantiasa menunggu hambaNya yang mau datang beraudiensi dan bersujud padaNya. PintuNya senantiasa terbuka mengingat Allah adalah maha mendengar, maha penerima taubat, dan sumber semua kedamaian hidup sebagaimana tersurat dan tersirat dalam asmaul husna yang berjumlah sembilan puluh sembilan.

Ketika seorang mukmin hatinya telah dipenuhi rasa cinta dan rindu pada Allah yang maha kasih dan pemurah, maka panggilan sholat merupakan panggilan yang indah dan menggairahkan, layaknya anak muda yang jatuh cinta selalu ingin berjumpa kekasihnya. Atau seorang ibu yang merindukan untuk ketemu anaknya yang tengah pergi berlibur. Dalam konteks inilah menjadi sangat mudah difahami mengapa Rasulullah menganjurkan agar seorang muslim hendaknya sholat diawal waktu. Jangan di tunda-tunda. Bergegaslah memenuhi panggilan Allah.

Betapa sejuk dan ceria  waktu menjalani sholat jika hatinya berbunga-bunga ketika beraudiensi pada Allah. Semua kegiatan ditinggalkan karena tak ada yang lebih menarik ketimbang menghadap Allah. Begitu nikmat berdialog sambil tegak berdiri, sambil membungkuk dan kemudian bersujud. Dalam bersujud kita berserah diri secara total. Tak sanggup bibir menyampaikan semua perasaan dan pikiran sehingga Rasulullah mengajarinya dengan ucapan yang penuh pujian dan mohon ampunan. Tetapi sesungguhnya lebih dari itu yang seorang hamba ingin sampaikan pada momen seperti itu, sebuah adegan sujud. Kepala yang biasanya dalam posisi tegak, kadang sombong dan tebar pesona menunggu pujian kanan-kiri, dalam sujud  kita mencium tanah tanda kepasrahan dan pengakuan kekerdilann diri dan pengagungan Tuhan. Bahkan posisi pantat lebih tinggi dari posisi kepala.

Momentum sujud merupakan momentum puncak dalam sholat sehingga banyak orang berlama-lama, enggan buru-buru mengangkat kepala sebelum puas menumpahkan pikiran, perasaan, pujian dan permohonan ampun pada Tuhan. Tetapi ini hendaknya dilakukan dalam sholat sunnat saja, sebab kalau dalam sholat berjamaah bisa mengganggu suasana batin teman  yang mungkin ada agenda lain yang segara ringin dilakukan.

Coba saja hayati dan jalani, ketika sholat tumbuhkan dan ikuti parasaan rindu dan cinta pada Allah, maka anda akan betah berlama-lama dan akan merasakan aliran energy cinta dan damai dari Allah yang mengalir ke diri anda. Kalau itu menjadi habit dan kualitas sholat anda, maka ketika mengakhiri sholat dengan mengucap dan menebar salam dengan menengok ke kanan dan ke kiri, akan berkelanjutan dan dirasakan oleh siapapaun yang dekat anda baik di lingkungan keluarga, kantor maupun pergaulan sehri-hari. Bahwa mereka yang senang sholat adalah juga mereka yang senang menebar rasa damai bagi lingkungannya.

Rasa intim dengan Allah akan semakin intens dirasakan ketika kita berada dalam bulan Ramadan. Kedekatannya tidak saja dirasakan  sewaktu sholat, tetapi juga ketika sepanang hari menjalani puasa. Kita sungguh merasakan kedekatan dan kehadiran Tuhan sehingga larangan tidak makan dan minum serta perbuatan keji dengan ringan dan gembira kita taati. Setiap saat kita merasa dalam tatapan dan limpahan kasihNya. Dan memang begitulah firman Allah, dimanapun dan kapanpun berada, Allah sungguh dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Urat nadi adalah urat aliran darah yang menjadi penyangga  kehidupan yang bergerak dan digerakkan oleh jantung. Artinya,  Tuhan yang paling dekat dan menguasai kehidupan kita dan selalu peduli pada hidup kita. Selama Ramadan kita berintim diri dengan Allah baik sewaktu menjalani puasa, sholat tarawih maupun tadarrus Al-Qur’an. Subhanallah, sungguh indah dan menggairahkan beribadah di bulan Ramadan.

Tidak hanya merasa akrab dengan Allah, sewaktu bulan Ramadan terjadi proses konsolidasi dan intensifikasi ikatan batin dengan sesama keluarga. Aura spiritual memenuhi kehidupan rumahtangga. Lapar dan haus dirasakan bersama semata karena memenuhi pesan ilahi yang buah kebaikannya akan kembali pada diri kita sendiri. Lalu makan buka dan sahur bersama. Sholat tarawih bersama. Terima Tuhan, aku dipertemukan dengan bulan yang penuh berkah ini.

Spread the love

Check Also

Keyakinan Sumber Ketenangan

Oleh: Komaruddin Hidayat Andaikan kematian seseorang berarti akhir seluruh cerita hidupnya, yang berarti setelah mati …

%d bloggers like this: