Oleh: Komaruddin Hidayat
Pada tahun 1999 John Naisbitt menerbitkan buku yang menjadi best seller, yaitu High Tech, High Touch. Dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih dan menyentuh berbagai professi dan bidang kehidupan, aktivitas sehari-hari menjadi lebih ringan, produktif dan effisien dijalani. Masyarakat lalu terbiasa dengan situasi dan proses yang serba cepat dan kilat. Gaya hidup yang serba pelan dan santai dianggap kuno, tidak sejalan dengan tuntutan zaman dan gaya hidup modern.
Dengan gawai di tangan, orang dengan mudah terhubung dengan siapa saja dan apa saja sehingga seseorang seakan tak bisa lagi menikmati kesendirian, tidak memiliki me-times, untuk merenung dialog dengan alam sekelilingnya membaca ayat-ayat Tuhan yang terhampar di alam semesta ini. Kehadiran gawai telah merampas suasana kebersamaan keluarga untuk santai bercanda dan berbagi cerita. Orang cenderung “mati rasa”, rendah empati terhadap orang-orang di sekelilingnya. Masing-masing asyik dengan gawai di tangan, berkelana entah ke mana sehingga suasana mental “being now and here” tak ada lagi. Secara fisik seseorang memang berada di satu tempat. Tetapi pikirannya tidak disitu. Dia sibuk dalam kesendirian. Atau sebaliknya, dia merasa banyak sekali teman di dunia maya, padahal jiwanya kosong. Sepi, sendiri.
Yang juga menonjol dan mudah di amati adalah gawai telah merampas waktu untuk membaca buku atau beraktivitas lain, sibuk dengan membaca pesan di Whatsapp Group (WAG) dan saling berkirim photo. Bayangkan, kalau seorang ibu rumah tangga menyimpan WAG lebih dari 10, maka pesan dan posting bisa masuk setiap 10 menit. Semua postingan itu selalu menggoda untuk dibaca dan ditanggapi, sehingga berapa jam sehari waktu tersedot untuk bermain gawai? Yang juga menjadi masalah bukan sekedar merampas waktu, tetapi isinya sangat mempengaruhi suasana hati dan emosi seseorang. Hanya karena beda pilihan capres, mereka bertengkar lewat medsos. Jika yang demikian ini terus terjadi berulang-ulang, maka akan mempengaruhi pekerjaan sehari-hari. Tanpa disadari emosi dan pikiran seseorang telah digerakkan oleh orang lain dan berita di medsos yang sangat mungkin itu hoax atau iseng belaka.
Situasi di atas itulah yang saya maksudkan dengan low touch. Kemajuan teknologi super canggih, namun tidak difungsikan dengan nalar dan sikap yang canggih. Ini juga terlihat dalam sajian di televisi, saya merasa kesulitan mendapatkan acara yang berbobot dan menarik. Untunglah sekarang ada youtube, banyak materi ceramah dan diskusi di luar negeri yang benar-benar berkualitas. Salah satu cara menambah ilmu yang saya lakukan adalah membeli buku lalu mendengarkan ceramah dan diskusi oleh pengarangnya lewat youtube.
Bagi mereka yang senang menulis essai atau pun buku, secara teknis saat ini sangat mudah untuk mendapatkan sumber kepustakaan. Mudah sekali mengakses e-book dan e-journal. Namun secara psikologis kadang saya ragu, apakah masyarakat masih senang dan tahan lama membaca buku? Salah satu kekhawatiran orang tua terhadap anak dengan banyaknya permainan animasi berupa perang atau perkelahian, misalnya, dampaknya akan membuat perasaan anak-anak kurang sensitif ketika dihadapkan kenyataan di lapangan, karena batas antara animasi dan realitas di lapangan sudah kabur. Jadi, dulu dalam masyarakat tradisional mungkin malah sebaliknya, low tech, high sensitivity.
KAHA Virtual University The Official Website of Prof. Dr. Komaruddin Hidayat