fbpx
Home / Sosial / Menakar Kualitas Puasa

Menakar Kualitas Puasa

Oleh: Komaruddin Hidayat

SETIDAKNYA terdapat empat dimensi untuk menimbang dampak positif dari puasa Ramadhan. Yang paling mudah diamati dan dikukur adalah efek puasa terhadap kesehatan fisik. Ini wilayah ilmu kedokteran.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman medis, orang yang berpuasa bukannya menjadi sakit, justru sebaliknya, malah bertambah sehat. Bahkan banyak dokter yang menganjurkan agar seseorang berpuasa untuk membantu penyembuhan penyakit-penyakit tertentu. Saya sendiri merasa kolestrol dan darah lebih sehat selama dan setelah berpuasa Ramadan.

Yang kedua adalah dampaknya pada kondisi mental-emosional. Selama berpuasa kondisi kejiwaan lebih tenang, stabil, dan tidak mudah emosi. Mungkin ini pengaruh dari perubahan ritme makan-minum sehingga secara signifikan ketika berpuasa kita menjadi lebih sabar. Pikiran lebih jernih.

Lapar dan haus yang diniati ibadah dan secara sadar orang yang berpuasa bertekad mengendalikan hawa nafsu dampaknya terasa sekali dalam kehidupan sehari-hari. Ini membawa dimensi yang ketiga, yaitu hubungan sosial yang lebih damai dan sehat.

Perhatikan saja selama bulan Ramadan, hubungan sosial dalam masyarakat tiba-tiba berubah menjadi damai, masing-masing berusaha menahan diri. Orang yang berpuasa saling menghargai yang lain, bahkan terhadap yang tidak berpuasa sekali pun. Sebaliknya, mereka yang tidak berpuasa juga menghargai temannya yang berpuasa.

Tiga dimensi di atas kesemuanya mudah diamati dan tentunya masing-masing diri kita merasakan dan turut berpartisipasi di dalamnya. Terutama dalam membangun relasi sosial yang lebih damai dan penuh toleransi serta saling menghargai.

Dalam kehidupan keluarga misalnya, suasana baru sangat dirasakan perubahannya. Masing-masing tidak saja menahan diri dari makan dan minum di siang hari, namun lebih penting lagi adalah menahan lisan dan tindakan yang menyakiti orang lain karena hal itu akan merusak kualitas puasa.

Suasana religius pun terasa begitu kental. Salat tarawih, tadarus Alquran dan program TV kesemuanya turut mengkondisikan dan memperteguh bahwa bulan Ramadhan adalah bulan spiritual dan keilmuan.

Dimensi keempat yang sulit diukur adalah yang berkaitan dengan kualitas puasa di mata Allah. Apakah ibadah puasa seseorang diterima Allah dengan nilai bagus, ini diluar kapasitas kita untuk menakar dan memberi penilaian.

Memang benar, kita bisa melihat efeknya dalam tiga dimensi di atas namun jika sudah menyangkut dimensi metafisik tentu itu sepenuhnya hak prerogatif Allah. Bisa saja orang miskin yang bekerja keras membantingtulang demi mencari nafkah untuk keluarganya sampai tidak sanggup berpuasa kedudukannya lebih mulia dari mereka yang berpuasa namun bergelimang harta haram.

Bisa jadi orang yang ke masjid untuk salat tarawih sambil mendengarkan ceramah agama pahalanya lebih banyak ketimbang imam dan penceramahnya. Itu terjadi jika orang yang pertama hatinya lebih tulus dan ikhlas, sementara yang kedua sekadar kegiatan rutin layaknya sebuah profesi.

Jadi, janji Allah bahwa bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah, ampunan, dan hujan pahala bagi siapapun yang beribadah di bulan itu, ini masuk wilayah metafisik, gaib. Ia cukup diyakini dengan penuh harap dan ikhlas namun nalar manusia tidak sanggup menakarnya. Di sinilah salah satu prinsip keimanan.

Iman tidak mesti bertentangan dengan nalar, bahkan iman yang sehat dan kokoh adalah yang didukung oleh argumen penalaran yang sehat dan logis. Namun nalar pada satu titik mesti berhenti, sepenuhnya masuk ke wilayah iman.

Oleh karenanya salah satu rukun iman adalah mempercayai pada yang gaib, yang tidak mampu mata, telinga dan nalar menjangkaunya. Salah satunya adalah keyakinan bahwa Allah mendengarkan doadoa hambaNya, terlebih yang dipanjatkan pada bulan suci Ramadan, yang oleh mereka yang bersih atau suci hati, pikiran dan tindakannya berkat ibadah puasa.

Sejak masa Rasulullah ibadah puasa terjaga dan dijalankan oleh para ummatnya. Khususnya setiap bulan Ramadan, sebuah tradisi keagamaan yang amat kokoh akar tradisi dan landasan doktrinalnya yang kemudian didukung oleh argumen medis, psikologis dan dukungan budaya.

Yang selalu ditunggu dan dipertanyakan masyarakat adalah bagaimana agar puasa Ramadan berdampak nyata bagi pembentukan kesalehan sosial. Bukan sekadar diyakini sebagai upaya pembersihan dosa-dosa individual-vertikal.

Spread the love

Check Also

Eksistensi Jiwa Insani (4)

Oleh: Komaruddin Hidayat Jiwa insani (human soul) berposisi di atas jiwa nabati dan jiwa hewani …

%d bloggers like this: