fbpx
Home / Sosial / Apa yang Kita Miliki?

Apa yang Kita Miliki?

Oleh: Komaruddin Hidayat

Kata milik dugaan saya berasal dari bahasa Arab. Malik artinya penguasa atau raja. Dalam surah al Fatihah disebutkan “maliki yaumiddin”, yang menguasai atau merajai hari kemudian nanti. Jadi, pemilikan artinya penguasaan. Kalau  kita memiliki sesuatu, artinya kita menguasai sesuatu itu sehingga bisa berbuat apa saja dengan apa yang kita miliki itu sesuai dengan sifatnya

Kalau seseorang memiliki mobil, dia memiliki kekuasaan untuk menggunakan mobil itu untuk keperluan yang dia kehendaki, umumnya untuk mengantarkan orang atau barang. Kalau seseorang memiliki makanan, dia mempunyai kekuasaan dan kewenangan untuk mengkonsumsinya agar kenyang dan sehat. Demikianlah, dalam kata “memiliki” terkandung makna seseorang menjadi “malik” atau raja, dan barang atau orang yang dimiliki merupakan “budak” atau “pesuruh” atau “obyek” yang bisa dimanfaatkan dan diperintah sesuai kehendak majikannya.

Batas Kepemilikan

Tanpa disadari kita memiliki klaim terhadap anak, harta, ilmu, teman, jabatan dan entah apa lagi. Kesemuanya itu milik kita. Kita menguasai kesemuanya. Pada hal, benarkah kita mampu mengendalikan, memerintah  dan menguasai terhadap klaim-klaim tadi? Kita menyimpan uang di bank, maka sesungguhnya kita tidak lagi memiliki sepenuhnya uang itu. Boleh saja mengaku memilikinya, tetapi sesungguhnya kendali posisi uang tak lagi berada di tangan kita. Dan inilah yang tengah terjadi di AS dan berulangkali terjadi di Indonesia. Masyarakat menyetorkan uang ke bank lalu ditukar dengan sertifikat bukti penyetoran namun ujungnya uang itu malah lenyap pergi tidak karuan. Jadi, benarkah kita masih memiliki uang yang sudah berada di tangan orang lain?

Bagaimana dengan anak-anak? Semakin anak tumbuh besar, maka pengetahuan dan penguasaan orangtua terhadap mereka semakin mengecil. Terlebih ketika tingkat pendidikan dan kekayaan anak melebihi orangtuanya, maka orangtua tak lagi mampu mengontrol. Itu yang kadang terjadi pada keluarga artis. Ketika anaknya sudah popular, banyak duit, jadi selebritis, orangtua tak lagi memiliki keberanian menasehati dan mencegah ketika anaknya memasuki gaya hidup glamor dan bebas, hidup yang sesungguhnya sangat berseberangan dengan kehendak dan nilai-nilai yang dijaga orangtuanya. Jadi, apa makna kepemilikan anak dalam konteks demikian?

Memiliki jabatan? Itu lebih pendek lagi durasinya. Ibarat baju, jabatan bukannya milik yang melekat selamanya, tetapi sekedar dipakai sepanjang berlakunya SK. Itupun hanya valid selama jam-jam kantor. Dalam relasi sosial, sesungguhnya setiap orang memiliki multi jabatan dan multi peran yang berubah-rubah. Ketika di rumah mungkin saja jabatan yang melekat dan mempengaruhi perilakunya sebagai “suami” atau “isteri”. Tetapi begitu berhadapan dengan anak akan berubah menjadi “ayah” dan ketika bertemu orangtua berubah lagi sebagai “anak”, lalu ketemu mertua sebagai “menantu”. Sewaktu sakit berjumpa dokter sebagai “pasien”, dan seterusnya.

Jadi berbagai jabatan, label dan identitas tadi ada yang sifatnya kontraktual, sosial dan psikologis. Bahkan nama pun bisa berganti-ganti kalau mau. Lalu kalau ditanya “Siapa aku?”, “Who am I ?”, jawaban yang dimunculkan pasti akan beragam dan semua itu pasti tidak mampu menjelaskan “keakuan” secara utuh dan tuntas.

Yang namanya ilmu dan ketrampilan pun tidak selamanya melekat dan bisa dikuasai serta diperintahkan kapan saja dimana saja untuk menolong pemiliknya.  Adakalanya kita lupa terhadap ilmu yang pernah kita ketahui. Sewaktu sakit gigi atau perut, misalnya, nalar sulit berpikir jernih. Ketika badan sakit berbagai ketrampilan fisik juga ikut terganggu. Pikiran, emosi dan ketrampilan fisik tidak ada yang berjalan konstan. Semuanya fluktuatif.

Yang konstan dan tak pernah berjalan surut adalah bertambahnya usia. Entah seseorang itu kaya atau miskin, pintar atau bodoh, sadar ataukah tidak sadar, penguasa ataukah rakyat jelata, orang baik ataukah jahat, usia seseorang terus berjalan sampai batas akhir habisnya jatah umur seseorang lalu dipangkas kematian. Jadi, sesungguhnya apa yang permanen dan abadi dimiliki seseorang? Lalu, siapa subyek yang memiliki itu?

Bahkan ruh sumber kehidupan pun suatu saat akan meninggalkan badan. Lagi-lagi, “who am I ?”. kita biasa mengatakan “aku” ketika berbicara pada orang lain. Suatu saat kita semua tidak lagi bisa mengatakan “aku” lagi dan teman kita tidak juga bisa menyebut “engkau”  karena “aku” dan “engkau” juga akan hilang dari peredaran. Sebutan “dia” juga hilang. Dalam keyakina agama, semuanya akan lenyap dan menyatu pada “Aku” , “Engkau” dan “Dia” yang Maha Absolut.

Kalau demikian halnya, kepemilikan itu memiliki hirarki, memiliki tingkatan-tingkatan makna. Tak ada kepemilikan abadi. Dalam konteks agama, hanya Tuhan Sang Pemilik sejati. Manusia hanya dipinjami sesaat saja. Diberi hak guna selama hidupnya. Apapun yang ada ini bukan milik manusia. Umumnya kita semua bertingkah persis anak kecil. Ketika anak kecil dipinjami mainan, dia akan menangis ketika diminta kembali. Dia merasa mainan itu miliknya. Ketika anak kecil diajak jalan-jalan di mal, dia ingin mengambil semaunya apa yang dia suka. Dia tidak tahu itu bukan miliknya. Ketika dicegah anak kecil akan menangis.

Begitulah, kita semua meski dari segi usia sudah dewasa bahkan lanjut usia, dalam banyak hal tak ubahnya anak kecil. Senang “meng-aku-aku” sebagai miliknya, padahal bukan. Harta, jabatan, anak, umur dan semua yang dirasakan melekat tidak siap jika suatu saat lepas atau dilepas dari diri kita. Berbahagialah mereka yang selalu sadar bahwa semua ini pinjaman, anugerah dan amanah untuk disyukuri dan difungsikan untuk memperbanyak amal kebajikan. Ketika suatu saat diambil kembali oleh Sang Pemiliknya, mereka merasa lega dan bersyukur karena telah memanfaatkan dengan sebaik mungkin dan beban amanahnya sudah dikurangi atau ditarik kembali oleh Yang Empunya.

Untuk melatih kesiapan mental, maka ketika memiliki jabatan mesti sadar bahwa itu amanah dan durasinya sesaat. Gunakanlah sebaik mungkin untuk menyumbangkan kebaikan dan kesejahteraan bagi sesamanya. Jabatan itu digilir di antara manusia, sebagaimana juga umur, ibarat rumah yang digilir dari generasi ke generasi untuk ditempati.

Spread the love

Check Also

Eksistensi Jiwa Insani (4)

Oleh: Komaruddin Hidayat Jiwa insani (human soul) berposisi di atas jiwa nabati dan jiwa hewani …

%d bloggers like this: